Pengamat internasional Mr. Andri Elyus Luntungan mengkritik keras kelumpuhan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai birokratis dan lumpuh akibat penyalahgunaan Hak Veto oleh lima negara adidaya. Ia membandingkan PBB dengan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dinilai lebih kesatria karena bersedia membubarkan diri secara resmi pada tahun 1946 setelah gagal mencegah Perang Dunia II. You can read the full analysis at Andri News. Baru— Di tengah berkecamuknya berbagai konflik global yang tak kunjung usai, kritik tajam kini mengarah langsung pada jantung tata kelola dunia: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi yang didirikan pasca-Perang Dunia II ini dinilai kian lamban, birokratis, dan mandul dalam menjalankan fungsi utamanya.Dalam sebuah wawancara eksklusif melalui saluran telepon siang ini, pengamat internasional terkemuka, Mr. Andri Elyus Luntungan, menyampaikan kegeramannya kepada Jurnalis Liong dari Tiongkok. Ia menyoroti ironi terbesar abad ini—bagaimana PBB gagal mengingatkan dunia bahwa 8,3 miliar manusia yang hidup hari ini secara biologis berbagi struktur DNA manusia modern yang sama.Mengapa PBB Lumpuh? Tragisme Hak VetoKritik publik di seluruh dunia mencerminkan kekecewaan yang mendalam. PBB sering kali tampak tak berdaya menghadapi krisis besar akibat sistem Hak Veto yang digenggam oleh lima negara anggota tetap Dewan Keamanan (AS, Rusia, China, Inggris, dan Prancis)."Lembaga ini kurang peka terhadap tujuan awal ia dibentuk," tegas Andri Elyus Luntungan. Ia mempertanyakan apakah para pemimpin dan lima negara pemegang veto saat ini benar-benar memahami esensi dari hak istimewa tersebut, atau justru menggunakannya demi ego nasionalisme sempit.Saat salah satu dari lima negara adidaya ini terlibat kepentingan, PBB otomatis lumpuh. Alih-alih bertindak sebagai "Pemerintah Dunia" yang berwibawa, PBB kerap terdegradasi sekadar menjadi "meja perundingan" yang terjebak dalam kompromi politik 193 negara anggotanya.LBB "Lebih Jantan" dalam Mengakui KegagalanDalam analisisnya yang mendalam, Andri Elyus Luntungan membandingkan PBB dengan pendahulunya, LBB (Liga Bangsa-Bangsa) yang didirikan pada 10 Januari 1920. Ketika LBB gagal mencegah Perang Dunia II, organisasi tersebut memilih untuk membubarkan diri secara resmi pada tahun 1946 sebagai bentuk pertanggungjawaban moral."Seharusnya PBB malu kepada pendahulunya. LBB lebih jantan karena bersedia membubarkan diri demi kehormatan ketika mereka sadar piagamnya tidak lagi dihormati," tambah Andri.Sebaliknya, PBB hari ini memilih bertahan dalam kelumpuhan politik. Meski badan-badan khususnya seperti WHO, WFP, dan UNICEF berhasil menjadi jaringan pengaman sosial dalam urusan pangan dan kesehatan global, PBB dinilai gagal total dalam menjaga marwah perdamaian makro dunia.Terkikisnya Logika Persaudaraan UniversalInti dari kegagalan PBB hari ini adalah terputusnya rantai persaudaraan kemanusiaan. Mengedepankan logika kekuasaan berkedok diplomasi telah mengikis habis kesadaran biologis bahwa seluruh manusia berasal dari satu keturunan yang sama.Jika para pemimpin dunia asli menyadari hakikat persaudaraan ini, maka:Perang akan menjadi mustahil: Karena tidak ada satu pun bangsa yang tega menghancurkan saudara kandungnya sendiri.Hak Veto akan menjadi usang: Dalam sebuah keluarga besar, tidak boleh ada kekuatan absolut yang digunakan untuk menindas atau meloloskan kesalahan anggota tertentu.PBB didirikan dengan kalimat pembuka piagam yang agung: "We the peoples..." (Kami, masyarakat...). Namun hari ini, seruan moral tentang satu DNA manusia itu bagaikan hilang ditelan bumi, tidak lagi terdengar di ruang-ruang sidang megah New York. Jika terus mempertahankan status quo tanpa reformasi radikal pada sistem vetonya, PBB tidak akan mati secara terhormat seperti LBB, melainkan mati secara perlahan karena kehilangan relevansi dan jiwanya.[Ditulis dan dilaporkan oleh: Jurnalis Liong, Cina Tiongkok]Naskah ini sudah disusun agar memiliki dampak emosional dan argumentasi yang runtut.









































































































































































U.S.
Español
Arabic




![March 15, 2018 - Yulia Skripal, daughter of Sergey Skripal. Photo: facebook.com/julia.skripal (Credit Image: © Russian Look via ZUMA Wire) (Newscom TagID: zumaamericastwenty275317.jpg) [Photo via Newscom]](http://cdn.cnn.com/cnnnext/dam/assets/180410053017-yulia-skripal-file-restricted-medium-tease.jpg)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar